journal1zadv@gmail.com

+62 857 0045 0130

Indonesia: Negara “Fatherless” dan Implikasinya

Indonesia beberapa waktu lalu sempat menjadi sorotan karena disebut menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan tingkat “fatherless” tertinggi di dunia. Istilah “fatherless” di sini tidak hanya merujuk pada anak-anak yang kehilangan ayah secara fisik, tetapi juga anak-anak yang kurang mendapatkan peran aktif seorang ayah dalam kehidupan mereka.Fenomena ini tentu saja mengundang keprihatinan karena peran ayah dalam perkembangan anak sangatlah penting.

Beberapa teori perkembangan anak dapat membantu kita memahami implikasi dari fenomena ini:

    1. Teori Psikoseksual Sigmund Freud
      Menurut Freud, sosok ayah memiliki peran penting dalam perkembangan superego anak, yaitu bagian kepribadian yang berkaitan dengan moralitas dan nilai-nilai sosial. Ketidakhadiran sosok ayah yang kuat dapat menghambat perkembangan superego anak, sehingga mereka cenderung lebih impulsif dan kurang memiliki kesadaran akan konsekuensi tindakan.
    2. Teori Perkembangan Sosial-Kognitif Lev Vygotsky
      Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan kognitif anak. Sosok ayah dapat menjadi model peran yang penting dalam membantu anak mengembangkan keterampilan sosial dan kognitif. Ketidakhadiran sosok ayah dapat membatasi kesempatan anak untuk belajar dan berkembang.
    3. Teori Attachment John Bowlby
      Bowlby berpendapat bahwa anak memiliki kebutuhan bawaan untuk membentuk ikatan emosional yang kuat dengan orang tua, terutama ibu. Namun, sosok ayah juga memiliki peran penting dalam memberikan rasa aman dan perlindungan. Ketidakhadiran atau keterlibatan ayah yang minim dapat mengganggu pembentukan ikatan aman pada anak, sehingga mereka cenderung mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial di masa depan.

Anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah yang kuat cenderung mengalami berbagai masalah, seperti:

    • Masalah perilaku
    • Masalah emosional
    • Masalah sosial
    • Masalah akademik

Beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap tingginya angka “fatherless” di Indonesia, antara lain:

    • Perceraian
    • Kematian
    • Migrasi
    • Konsep maskulinitas

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak, seperti pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

    • Pendidikan
      Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran ayah dalam keluarga.
    • Konseling
      Menyediakan layanan konseling bagi keluarga yang mengalami masalah, terutama terkait dengan perceraian atau kematian salah satu orang tua.
    • Program dukungan
      Mengadakan program dukungan bagi para ayah, seperti program parenting atau kelompok diskusi.
    • Kebijakan publik
      Membuat kebijakan yang lebih mendukung peran ayah dalam keluarga, misalnya dengan memberikan cuti bagi ayah yang baru memiliki anak.

Fenomena Indonesia sebagai negara dengan tingkat “fatherless” yang tinggi merupakan masalah kompleks yang memerlukan solusi yang komprehensif. Dengan memahami akar penyebab masalah dan bekerja sama, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Indonesia.

 

Penulis :

Dyah Putri A