journal1zadv@gmail.com

+62 857 0045 0130

Aura Maghrib: Candaan atau Body Shaming?

Guys, pernah gak sih denger istilah “aura maghrib”? Pasti sering banget ya, terutama di media sosial. Awalnya mungkin kita ngakak aja gitu, tapi pernah gak sih mikir, seberapa jauh sih candaan ini bisa menyakiti perasaan orang lain? Yuk, kita bahas bareng-bareng soal “aura maghrib” ini dari sudut pandang etika.

Aura Maghrib: Apa Sih Sebenernya?

Buat yang belum tahu, “aura maghrib” itu sejatinya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kulit sawo matang atau gelap. Istilah ini seringkali digunakan sebagai bahan bercandaan, tapi sayangnya, candaan ini seringkali menyasar pada penampilan fisik seseorang.

Kenapa Istilah Ini Bermasalah?

  • Body Shaming

Penggunaan istilah ini bisa dianggap sebagai bentuk body shaming atau penghinaan terhadap warna kulit seseorang. Padahal, setiap warna kulit itu unik dan indah kok!

  • Standar Kecantikan

Istilah ini juga memperkuat standar kecantikan yang sempit, yaitu kulit putih. Padahal, kecantikan itu relatif dan nggak bisa diukur dari warna kulit saja.

  • Diskriminasi

Dalam konteks yang lebih luas, penggunaan istilah ini bisa dianggap sebagai bentuk diskriminasi berdasarkan fisik. 

Kenapa Kita Harus Peduli?

Sebagai generasi yang terbuka dan inklusif, kita harus peduli dengan penggunaan bahasa yang kita gunakan. Kata-kata yang kita ucapkan bisa memiliki dampak yang besar pada perasaan orang lain.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pertama-tama, kita harus sadar bahwa penggunaan istilah “aura maghrib” bisa menyakiti perasaan orang lain. Mari kita bersama-sama menghentikan penggunaan istilah ini dalam percakapan sehari-hari. Jika kita melihat teman atau orang lain menggunakan istilah ini, jangan ragu untuk menegurnya dengan baik. Ayo kita bersama-sama mempromosikan kecantikan dalam segala bentuknya, termasuk warna kulit.

Candaan boleh saja, tapi jangan sampai menyakiti orang lain. Penggunaan istilah “aura maghrib” bisa dianggap sebagai bentuk body shaming yang tidak perlu. Mari kita jadikan media sosial sebagai tempat yang positif dan inklusif untuk semua orang. Ingat, setiap individu itu unik dan berharga, terlepas dari warna kulitnya.

 

Penulis :

Dyah Putri A